Menu

Kurikulum 2013

0 Comments


KOMPAS.com – Seorang ibu menulis di jejaring sosial, ia khawatir masa depan anaknya menghadapi Kurikulum 2013.
Apalagi ia baru saja menerima pesan dari senior, ”Jangan harap anak-anak bisa hebat seperti generasi kita.” Lewat tengah malam, karangannya diunggah melalui ponsel pintar. Dalam sekejap komentar berdatangan. Semua datang dari orangtua sibuk yang baru bisa menulis tengah malam.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum sekolah yang belum tentu berhasil (kalau tak ada kerja sama), apalagi pada tahun-tahun awal. Namun, bukankah kita hidup dalam peradaban continuous improvement?

Ibarat membangun gedung tinggi, tak akan pernah jadi bila galian fondasi berantakan.

Pantas ibu tadi gelisah. Anaknya akan memasuki ”pintu awal kekacauan” dari sebuah perubahan yang belum tentu berhasil pula. Apalagi bila yang mengganggu lebih banyak daripada yang membantu. Di peradaban sosial media, kita sudah saksikan lebih banyak orang iseng ketimbang yang benar-benar memikirkan perubahan. Tambahan lagi, orangtua tak punya waktu mendidik anaknya.

Sekolah adalah sebuah ”kawah penggodokan”, tetapi harap maklum ia hanya salah satu dari tiga pilar pendidikan selain orangtua dan lingkungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


three × = 24

*